|
Artikel New Wave Marketing di Kompas Klasika hari Selasa, 9 September 2008 halaman 35 berjudul "From Thai Boxing to American Wrestling". Artikel ini ditulis oleh Hermawan Kartajaya, mengulas ketatnya persaingan industri telekomunikasi, khususnya telepon seluler. Sangking ketatnya persaingan, kondisi yang ada sekarang benar-benar kacau karena nyaris tidak ada aturan yang berlaku. Persaingan ketat terjadi karena setiap provider ingin bertahan hidup. Nah, kita sebagai konsumen pun harus cerdas bertahan di tengah kacaunya persaingan agar kita tidak menjadi korban. Bagaimana caranya ? Sebelum membahas cara agar kita tetap survive sebagai konsumen, tidak ada salahnya saya akan mengulas terlebih dahulu kondisi persaingan seperti yang digambarkan oleh artikel tersebut di atas. Survive sebagai konsumen itu artinya bukan sekedar tetap menjadi pelanggan dan pengguna telepon seluler, lebih dari itu, survive itu artinya kita menjadi konsumen yang cerdas dalam memanfaatkan secara optimal peluang yang ada dan tidak membayar sesuatu yang tidak perlu. Satu lagi yang perlu kita pahami sama-sama adalah artikel itu menggunakan istilah yang diluncurkan oleh Bapak I Nyoman G. Wiryanata, Direktur Konsumer PT Telkom Indonesia. Oleh karena itu, istilah 'tertib' atau 'kacau' dalam artikel tersebut berasal dari kacamata produsen atau operator. Tulisan saya ini akan memberi komentar atas kondisi 'tertib' dan 'kacau' dari kacamata saya sebagai konsumen. Semoga saya bisa mewakili kacamata seluruh konsumen lainnya. Kondisi pertama yang digunakan untuk menggambarkan persaingan bisnis seluler adalah Traditional Boxing. Semua orang - petinju, wasit, hakim, pelatih, penonton- ikut aturan. Petinju hanya dapat nilai kalau tinjunya kena muka lawan. Kondisi ini memang sangat teramat tertib. Kalau saya tidak salah menduga, kondisi seperti ini terjadi pada era tahun 1990 an sampai 2000 an awal. Apa yang waktu itu bisa kita lakukan sebagai konsumen? Tidak ada sama sekali. Yang pasti kita sebagai konsumen harus membayar mahal, entah mahal karena kecanggihan teknologi atau mahal karena kita dianggap bodoh oleh operator. Coba kita ingat, berapa yang dulu kita bayar untuk memperoleh sebuah kartu seluler, berapa yang harus kita bayar apabila kita bepergian ke luar kota dan berapa yang harus kita bayar saat kita mengirim SMS. Pada waktu itu kita harus rela membayar mahal untuk mengirim SMS karena tidak ada pilihan lain. Sekarang, kita baru tahu harga pokok sebuah SMS bagi operator, dan kita bisa membayangkan berapa keuntungan operator yang menguasai telekomunikasi seluler di Indonesia waktu itu. Silakan di reka-reka saja perhitungannya, dan itulah salah satu ongkos yang harus dibayar oleh seluruh pengguna telepon seluler di Indonesia. Sekali lagi, saya tidak tahu itu ongkos kecanggihan teknologi SMS atau ongkos kebodohan konsumen. Kondisi kedua adalah Thai Boxing. Ini ceritanya sudah berubah. Dalam kondisi ini pemain A sah saja apabila menggunakan kakinya untuk menendang pemain B. Produsen atau operator sudah mulai merasakan sakit. Saya mereka-reka, ini mulai terjadi sekitar tahun 2005an. Kita yang selama ini menggantungkan harapan pada operator tertentu, mulai tahu bahwa ternyata dari sisi tertentu, ada operator lain yang lebih baik. Harga yang dipatok operator mulai turun dan tentu saja ongkos kebodohan konsumen juga mulai turun. Kondisi terakhir, kondisi terkini, digambarkan sebagai American Wrestling. Kacau sekali, katanya. Tidak jelas siapa kawan, siapa lawan. Yang tadinya kawan bisa jadi lawan. Lawan juga bisa diuber samapai ke luar arena pertandingan. Wasitnyapun bisa ikut-ikutan dipukul. Sekali lagi saya ingatkan, itu kondisi dari kacamata operator atau produsen. Menurut tulisan itu, kondisi itu bisa merugikan produsen karena menggerus profit. Bahkan mungkin akan mengganggu kualitas layanan dan menimbulkan pasar oligopoli. Saya tidak merisaukan kondisi ini, biarlah produsen bertarung, dan konsumen akan jadi pemenangnya. Biarlah profit produsen berkutang, karena itu artinya ongkos konsumen juga bisa ikut berkurang. Terakhir, marilah kita menjadi konsumen yang cerdas. Saatnya menjadi pelanggan yang sehat dengan cara menerapkan prinsip "4 Sehat 5 Sempurna Menjadi Pelanggan Seluler". Sebuah tips ringan yang sudah saya tulis sejak 2 bulan yang lalu. Semoga dengan tips itu, kita tetap bertahan di arena Thai Boxing maupun arena American Wrestling. Ditulis di Jakarta pada tanggal 10 September 2008 sebagai rangkaian tulisan tentang Pulsa Isi Ulang di http://www.guskun.com |
Main
Other Site
Affiliate
Community
Tulisan Terbaru
- Jangan terlena oleh kenikmatan hidup di dunia. Jangan binasa oleh kesulitan hidup di dunia
- Bersabar atas nikmat, bersyukur atas musibah
- kalau Anda merasa 1 pasangan tak cukup, 2 simpanan pun juga belum cukup ...
- Cobalah untuk membantu menyelesaikan kesulitan orang lain ........
- Keluarga yang harmonis adalah pilar utama pembentukan pribadi berintegritas
- Di tengan perjuangan menyelesaikan beban yang harus ku tanggung, Alhamdulillah masih diberi kekuatan membantu menyelesaikan masalah beberapa sahabat. ALLAHU AKBAR !!!
- Apakah yang menjadi kekecewaan terbesar Anda? Kegagalan Anda yang terbesar?
Pdf
Print
Email 


